| KARENA ingin menjadikan seolah kandungan proteinnya tinggi, produk susu di China dicampuri melamin. Tidak tanggung-tanggung, sekurangnya empat bayi meninggal dunia dan sampai hari ini dilansir sudah lebih dari 13.000 bayi harus dirawat. | | | |
| |
| |
Coretan-coretan pribadi untuk mengikat makna sehari-hari tentang segala hal sesuai dengan kata hati.
| KARENA ingin menjadikan seolah kandungan proteinnya tinggi, produk susu di China dicampuri melamin. Tidak tanggung-tanggung, sekurangnya empat bayi meninggal dunia dan sampai hari ini dilansir sudah lebih dari 13.000 bayi harus dirawat. | | | |
| |
| |
Saya Tidak Berbisnis dengan Tuhan
Djaja Laksana sudah hampir tiga dekade berkiprah sebagai pengusaha. Dan dia tak hanya berbisnis. Selama 25 tahun, dia juga menjadi seorang dermawan yang membagi-bagikan hasil usahanya untuk kaum papa.
DJAJA Laksana cukup dikenal di kawasan Pucang. Menempati dua kavling, tempat tinggal bos PT Karya Dua Raksa itu tinggi menjulang dengan gedung dua lantai. Di depan terdapat pos satpam. Semua tamu harus registrasi di bangunan mini di depan rumah Djaja.
Begitu pagar dibuka, tampak tiga mobil parkir di halaman. Honda Jazz, Isuzu Panther, dan Hyundai Santa Fe. Itu belum termasuk kendaraan di dalam tempat parkir.
Selasa sore(23/9), rumah Djaja tak hiruk-pikuk. Pengusaha yang merintis pabrik semen itu duduk santai di teras rumah sambil bercengkerama dengan anjing pudel dan mendengarkan kicauan burung hwa mei.
''Minggu kemarin(21/9), saya benar-benar kewalahan. Yang datang ke sini di luar prediksi. Banyak sekali, sampai akhirnya petugas datang dan membubarkan mereka,'' kata Djaja yang pernah mencetuskan ide menutup semburan lumpur Lapindo di Porong dengan metode tekanan ala hukum Bernoulli itu.
Hari Minggu yang dimaksud Djaja adalah ketika dirinya membagikan sedekah kepada fakir miskin di depan rumahnya. Ketika itu, alumnus Teknik Mesin ITS tersebut membagikan 11 ton beras. Djaja juga mendistribusikan duit hingga Rp 100 juta.
Jumlah ''tamu'' di rumah Djaja diperkirakan mencapai 2.000 orang. Saking menggiurkannya dum-duman beras dan uang di rumah Djaja, sampai terjadi pemalsuan. Sejumlah pemburu zakat membuat kupon seakan-akan mereka adalah penerima yang sudah terdata di database panitia. ''Ada lebih dari 500 lembar kartu palsu. Kelihatan dari tulisan. Di kartu itu bukan tulisan tangan saya. Yang ketahuan bawa kartu palsu, orangnya langsung lari,'' ungkap Djaja sembari menunjukkan kartu palsu tersebut.
Setiap pembagian sedekah, Djaja tak mau gegabah. Dia tidak ingin beras dan uang jatuh ke tangan orang yang salah. Sebelum pembagian, dia membentuk panitia. Karena wilayahnya cukup luas, Djaja minta tolong pengurus karang taruna untuk membantu pendataan. ''Saya tidak hanya berbagi dengan warga sekitar. Bahkan ada yang dari Grudo, Pandegiling, Kalibokor, dan Manyar Sambongan. Makanya, H-2 pembagian, saya sudah kerja sama dengan karang taruna,'' tuturnya.
Setelah data masuk, Djaja melakukan survei. Dia sendiri yang menyurvei. Bapak dua anak itu rela blusukan dari satu kampung ke kampung lain.
Djaja tahu betul rasanya jadi orang miskin. Pria kelahiran Singaraja, Bali, tersebut mengaku lahir dari keluarga pas-pasan. Waktu kecil, dia tahu rasanya mengantre beras dan minyak tanah di kampung halamannya.
Namun, tekad Djaja untuk maju cukup besar. Dengan segala keterbatasan, dia memaksakan diri untuk merengkuh pendidikan tinggi. Kerja kerasnya berbuah ketika dinyatakan lulus sebagai insinyur dari jurusan Teknik Mesin ITS pada 1979.
Lulus kuliah, dia juga tak langsung kaya. Dia keluar masuk kerja sebagai karyawan perusahaan. ''Saya sampai bosan pindah-pindah kerja. Kerja 3-4 bulan, pindah ke tempat lain. Gaji kecil. Belum sampai akhir bulan sudah habis,'' ujarnya.
Kondisi itu berlangsung selama tiga tahun. Padahal, Djaja sudah menikah. ''Hingga akhirnya saya sadar, saya harus berani berhenti. Kalau ikut orang terus, jadi karyawan, saya tidak akan maju,'' tegas putra pasangan I Gede Tirtajaya dan I Nyoman Tirta itu.
Djaja memutuskan bekerja sendiri sebagai kontraktor. ''Teman saya kasih order bikin rol mesin. Tapi, saya tidak punya modal. Saya bingung,'' ucapnya.
Bermodal nekat, Djaja mendatangi sebuah toko UD Santoso di Jalan Bubutan. Di sana, pria yang hobi melukis tersebut membeli peralatan bearing yang saat itu berharga Rp 1,5 juta. ''Tidak punya uang, saya akhirnya ngebon ke pemilik toko. Jaminannya ijazah sarjana saya dari ITS. Ijazahnya saya berikan. Saya bilang, kalau ada duit, saya akan bayar utang,'' katanya.
Si pemilik toko ternyata tersentuh. Bearing diberikan tanpa harus menggadaikan ijazah. ''Kemudian, saya cari pipa bekas di Pasar Loak Demak. Pengerjaannya, saya nebeng di Bengkel Cokro Bersaudara. Sebab, saya pernah bekerja di situ,'' tuturnya.
Proyek itulah yang menjadi titik awal kesuksesan Djaja. Rol mesin bikinannya mulai banyak diminati. Hingga, dia berhasil mendirikan perusahaan konstruksi mesin PT Karya Dua Raksa. Sejak itu pula dia memulai lembaran baru hidup sebagai dermawan. ''Sejak 1983 saya mulai berbagi,'' katanya.
Tiap tahun, menjelang Lebaran, Djaja tak pernah absen memberikan sedekah. ''Ada tiga grup yang saya jatah. Tiap grup berbeda kategorinya,'' ujarnya.
Kelompok pertama, para janda renta. Djaja memberikan bantuan untuk lansia itu setiap bulan. Jumlah bantuannya berupa uang Rp 50 ribu dan 10 kilogram beras. ''Ada 50 janda tua yang terdata. Mereka mendapat bantuan setiap bulan,'' ucapnya.
Kemudian, jatah lainnya dibagikan kepada kelompok tukang becak. Namun, jatah tidak diberikan tiap bulan seperti kaum janda. Pengayuh roda tiga itu kebagian rezeki tiap tahun. Yakni, berupa paket 5 kilogram beras dan uang Rp 50 ribu.
Nah, kelompok ketiga adalah masyarakat umum. Grup itulah yang dijatah Djaja dengan 11 ton beras dan uang Rp 100 juta, Minggu lalu. ''Semua sudah ada kartu anggotanya. Kecuali ketika pembagian kepada masyarakat umum itu, saya memang menyiapkan 30 hingga 40 persen di luar anggota yang terdaftar,'' jelasnya.
Djaja juga rajin mendermakan sebagian hartanya ke sejumlah yayasan. Salah satunya, Yayasan Assalawiyah di kawasan Kedung Asem. Sekitar 10 tahun dia membantu operasional yayasan itu. Mulai pembangunan sampai saat ini.
''Saya juga membantu gereja. Juga yayasan-yayasan lain. Juga, memberikan beasiswa kepada siswa tak mampu. Itu saya lakukan supaya balance. Semua manusia kan umat Tuhan. Saya tidak membedakan agama ini, agama itu. Golongan ini, golongan itu. Semua saya anggap sama,'' ucap Djaja yang penganut Katolik itu.
Dia mengaku bangga bisa menyerahkan bantuan secara langsung. Ada kepuasan tersendiri. ''Kontak batin saya dengan orang-orang itu yang penting,'' tegasnya.
Karena itu, Djaja mengaku belum tertarik membagikan sedekah melalui lembaga. ''Kalau lewat lembaga, kesannya kok saya ini berbisnis. Kalau untung sekian, menyerahkan uang sekian. Ada hitungan kalkulatornya. Beda kalau diserahkan sendiri, kadang uang yang saya serahkan tidak tahu jumlah persisnya,'' ujarnya.
Tak terasa, 25 tahun sudah Djaja mengabdikan sebagian hartanya bagi orang yang membutuhkan. Karena rutinitas itu, pengusaha yang intens mencari solusi kasus lumpur Lapindo di Porong tersebut pantas disejajarkan dengan nama lain yang selama ini dikenal sebagai dermawan yang kerap bagi-bagi duit atau sembako.
Misalnya, keluarga (alm) H Sukri yang juga dikenal punya kebiasaan yang sama. ''H Sukri itu saingan saya. Saingan di akhirat,'' ucapnya lantas tertawa.
Dia menceritakan, ''persaingan'' dengan almarhum pengusaha besi tua itu sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang memang ''hobi'' berburu sedekah. ''Tapi, saya bisa mengidentifikasi, sehingga orang yang sudah dikasih H Sukri tidak mungkin saya kasih lagi,'' katanya.
Identifikasi dilihat dari KTP (kartu tanda penduduk). Jika penerima sedekah di H Sukri, biasanya pinggir laminating kartu diiris tegak lurus ke bawah. ''Sehingga, ketahuan. Kalau saya, biasanya KTP-nya saya plong (dilubangi) di pinggir-pinggirnya,'' jelasnya.
Djaja merasakan karunia luar biasa ketika bisa membantu orang. Hartanya tidak pernah berkurang, justru terus bertambah. Namun, bukan janji lipat ganda harta yang menjadi tujuan Djaja untuk berbagi. ''Sebab, saya tidak berbisnis dengan Tuhan,'' tegasnya.
Dia merasakan, berbagi adalah kewajiban bagi dirinya. Wajib yang berasal dari lubuk sanubari, bukan pamrih. (fid/dos)
( Jawa Pos , 25 September 2008 )
SEBAGAI muslim, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada kaum fakir dan miskin adalah kewajiban. Lebih-lebih ketika Ramadan seperti saat ini. Momen mulia itu pun dimanfaatkan H Moch. Maseri untuk berbagi rezeki kepada kaum duafa.
Membagikan zakat kepada puluhan orang, terutama tetangga, merupakan kegiatan rutin pemilik Toko Anda tersebut. Sejak 2000, Maseri rutin membagikan zakat, terutama menjelang Lebaran, di rumahnya di Jalan Kupang Gunung 3A.
Bapak tiga anak itu sengaja memanggil ratusan tetangga untuk datang ke rumahnya menerima zakat. Maseri pun tak takut dibilang riya atau pamer. ''Saya ingin memberi contoh kepada orang kaya agar meniru saya (berzakat, Red),'' ujar lelaki yang menunaikan haji kali pertama pada 1983 tersebut. ''Zakat itu harus ditunjukkan,'' tegasnya.
Selain itu, Maseri tak ingin menyalurkan zakatnya melalui badan amal atau zakat. Menurut dia, zakat harus diberikan terutama kepada orang terdekat, yaitu tetangga. Jika disalurkan kepada badan amal dan zakat, bisa-bisa tetangganya tak mendapatkan zakat dari dirinya. ''Tetangga bisa kelewatan. Dan yang menerima malah orang luar-luar,'' kata kakek lima cucu itu.
Dalam pembagiannya, Maseri telah menyiapkan sendiri strategi pembagian agar berjalan tertib dan aman. Sehari sebelum pembagian zakat, dia menyebarkan undangan sekaligus kupon. Orang yang menerima zakat hanyalah orang yang datang membawa kupon. Selain itu, kupon undangan hanya berlaku pada hari tersebut. ''Kalau yang tidak membawa kupon diberi, biasanya yang berdatangan malah tambah banyak,'' ujarnya.
Dari tahun ke tahun, jumlah zakat yang dibagikan selalu bertambah. ''Alhamdulillah selama ini aman,'' ungkap bos 24 karyawan penjaga toko tersebut.
Tahun ini, suami Hj Mardiyah tersebut membagikan zakat kepada 970 orang. Zakat dibagikan untuk 650 warga sekitar Kupang Gunung. Selebihnya, 150 zakat diberikan kepada jamaah pengajian dan 170 zakat dibagikan di kampung halaman di Bangkalan, Madura. ''Sebab, masih banyak saudara di sana,'' ujar lelaki yang kali pertama datang ke Surabaya pada 1970-an itu.
Zakat yang dibagikan kali ini tidak berupa uang tunai, tapi sembako dan pakaian senilai Rp 60.000. Pengalaman sebelumnya memberikan pelajaran bagi Maseri. Jika dibagikan dalam bentuk uang tunai, banyak anggota keluarga penerima zakat yang tidak mengetahui. Misalnya, yang mengambil zakat sang suami, tapi tidak disampaikan kepada istri atau istrinya tidak diberi tahu. ''Kalau dibagikan uang, takutnya tidak untuk kebutuhan Lebaran,'' tegas lelaki yang berulang tahun pada 4 Mei itu.
Semua yang Maseri lakukan tersebut semata-mata demi menunaikan kewajiban sebagai muslim. Selain itu, pembagian zakat yang menghabiskan uang Rp 50 juta tersebut merupakan wujud rasa syukur atas rezeki yang dia peroleh. ''Sebab, dulu saya datang ke Surabaya tidak langsung sukses,'' ujar pemilik toko yang masih rutin belanja sendiri ke Kembang Jepun untuk memenuhi isi toko miliknya tersebut.
Sebelum memiliki toko sendiri, Maseri berjualan rokok di sepanjang Jalan Kupang Gunung. Berkat keprihatinan dan kegigihan kerja, pria kelahiran Bangkalan 55 tahun silam tersebut berhasil memiliki toko sendiri yang kini ditempati beserta anak dan istri. ''Alhamdulillah, akhirnya bisa seperti ini,'' ujar bapak tiga anak tersebut. (obi/dos)
( Jawa Pos )
Oleh Ahmad Rofiq
Tragedi kemanusiaan akibat pembagian zakat secara langsung kembali berulang. Kali ini zakat di rumah H. Syaikhon Fikri, Desa Purutrejo Purworejo, Pasuruan, Jawa Timur, merenggut jiwa 21 orang karena berdesakan untuk mendapatkan zakat Rp 30.000.
Tragedi memilukan kali ini adalah kejadian yang kesekian kali. Tahun lalu di Semarang dan Bantul terjadi kisruh dalam pembagian zakat meskipun tidak ada korban.
Anehnya, para muzaki (orang kaya) tidak pernah "kapok" membagi secara langsung zakatnya kepada masyarakat. Tampaknya, mereka "menyimpan" kebanggan jika mereka dapat membagi secara langsung zakatnya, apalagi yang hadir ribuan orang dan berjubel dari berbagai daerah.
Mengapa mereka cenderung membagi zakatnya secara langsung kepada mustahik (penerima zakat)? Penelitian UIN Jakarta menunjukkan bahwa di antara Rp 50 triliun potensi zakat per tahun di Indonesia, baru tujuh persen yang tergarap oleh badan/lembaga amil zakat (BAZ/LAZ). Sepuluh persen masyarakat tidak percaya kepada BAZ/LAZ. Kebanyakan masyarakat menjawab, sulit akses kepada BAZ/LAZ, dan selebihnya menjawab karena kecilnya jumlah zakat yang mereka bayarkan.
***
Tragedi tersebut hendaknya menjadi warning bagi para pengelola BAZ/LAZ agar meningkatkan kinerjanya secara profesional. Programnya jelas, terukur, dibutuhkan masyarakat, dan lebih fokus pada upaya pemberdayaan ekonomi para mustahik, sekaligus membangun mentalitas kewirausahaan (entrepreneurship).
Misi utama zakat yang disyariatkan adalah mengurangi kemiskinan, yakni mengubah mustahik menjadi muzaki. Bagi muzaki, selain untuk membersihkan dan men-suci-kan harta mereka, juga agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya.
Karena itu, agar pelaksanaan misi zakat tersebut dapat terwujud secara konkret, manajemennya telah ditunjukkan dalam QS Al-Taubah: 60, yang disebut amil (wa al-'amilina 'alaiha). Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa wajib, hukum pembayaran zakat melalui BAZ/LAZ. Jika memang dipandang perlu, MUI dapat mengeluarkan fatwa bahwa menyalurkan zakat melalui BAZ/LAZ adalah wajib.
BAZ/LAZ harus dikelola dengan manajemen zakat yang profesional. Sementara, sekarang masih ditangani oleh "panitia kecil" yang amatiran dan tidak profesional. Tugas amil belum diimplementasikan secara benar. Implikasinya, para muzaki tidak menaruh kepercayaan pada amil dan mereka cenderung membagi zakatnya sendiri langsung kepada para mustahik, tidak melalui amil. Itu pun pemilihan mustahik belum atau tidak tepat sasaran.
Amil adalah pengelola zakat yang secara eksplisit disebut Alquran. Amil harus bekerja dan mengurus zakat secara benar. Orang-orang yang ditugasi sebagai amil hendaklah yang memiliki kompetensi pemahaman tentang zakat, filosofi, dan tujuannya. Orang-orang yang ditugasi untuk menghimpun zakat mencatat, menginventarisasi mustahik, mengklasifikasikan, mendistribusikannya, dan membuat laporan pertanggungjawaban kepada publik.
Ada empat peran amil. Pertama, mengingatkan para muzaki agar tidak lupa membayar kewajiban zakat. Naluriah manusia adalah "bakhil" alias "kikir". Karena itu pula, kerja amil zakat adalah "menjemput bola" mendatangi muzaki (khudz min amwalihim) agar disiplin membayar zakat harta mereka sehingga hartanya bersih, suci, berkah, dan meningkat.
Kedua, menjadi intermediator antara mustahik dan muzaki. Meminjam bahasa Quraish Shihab, menjaga "air muka" mustahik agar tidak meminta-minta kepada muzaki. Islam memiliki konsep cerdas: tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah atau memberi lebih baik daripada meminta.
Meminta adalah pekerjaan yang "merendahkan" martabat dirinya. Muzaki tidak harus berhadapan langsung dengan mustahik karena akan dapat menimbulkan sikap riya dan mungkin takabur. Apalagi faktanya, banyak tragedi zakat telah menewaskan banyak orang.
Selain itu, Alquran mengidentifikasi mustahik yang hidupnya kekurangan dan tidak meminta-minta. Karena itu, untuk memberikan zakat, sebaiknya para mustahik didatangi oleh BAZ/LAZ agar tragedi zakat terulang lagi.
Ketiga, mengontrol para mustahik tidak menerima zakat dari berbagai sumber, yang dapat menimbulkan sifat dan sikap ketergantungan, yang dapat "memasung" dirinya untuk ikhtiar mengubah nasib dan masa depannya. Selama tidak ada sistem pengelolaan dan pendistribusian zakat secara konseptual yang bermuara pada mengubah mustahik menjadi muzaki dengan sistem zakat produktif, selama itu pula angka kemiskinan tidak pernah berkurang.
Keempat, memilah dan memilih serta mengklasifikasikan mustahik sehingga jelas di antara mereka mana yang lebih tepat menerima zakat konsumtif dan mana yang seharusnya diberi zakat produktif. Dengan klasifikasi itu, diharapkan dapat ditentukan target per tahun, berapa orang mustahiq yang diprediksi menjadi muzaki.
***
Karena misi utama zakat adalah mengubah mustahik menjadi muzaki atau mengentaskan kemiskinan, maka sistem dan konsep pengelolaan serta pendistribusian zakat ini harus dipahami oleh seluruh pengelola zakat, baik di badan amil zakat (BAZ) yang dibentuk pemerintah maupun lembaga amil zakat (LAZ) yang dibentuk masyarakat. Jika pengurangan angka kemiskinan itu menjadi program secara nasional, maka seluruh zakat mal yang terhimpun "wajib" disalurkan sebagai zakat produktif.
Pendistribusian zakat secara langsung oleh muzaki kepada mustahik secara harus dipotong/dipangkas. Selama para muzaki masih berminat membagi zakatnya secara langsung, maka implikasinya sama halnya menciptakan mental ketergantungan para mustahik. Mustahik yang termasuk kategori hidup kekurangan, tetapi tidak mau meminta-minta (al-mahrum) tidak akan pernah mendapatkan bagian zakat.
Untuk pertama kali memotong jalur ini, boleh jadi ada anggapan, Pak A orang kaya yang biasa membagi zakat sekarang "pelit"? Saya Kira, itu hal yang wajar. Atau, bisa juga dilaksanakan dengan memilah harta yang akan dibagikan. Harta yang dibagi secara konsumtif adalah infak dan shadaqah. Sementara zakat mal wajib disalurkan melalui BAZ/LAZ.
Dengan memotong jalur zakat konsumtif dan penyaluran melalui BAZ/LAZ, pendistribusian zakat produktif diharapkan dapat mengurangi angka kemiskinan secara signifikan. Allah a'lam bi al-shawab.
Prof Dr Ahmad Rofiq MA , guru besar Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang
Ketik ” bla bla bla ’ kirim ke 0101 ...kirim sebanyak-banyaknya ...berhadiah bla...bla...bla ....
Kalimat itu sering kita lihat dan baca di layar televisi baik diacara kontes musik, akademi fantasi, dai kecil dsb.
Sebenarnya sms seperti ini adalah bentuk kejelian melihat peluang dari pelaku bisnis . Ya ini memang sebuah bisnis apapun kemasannya ...baik cari bintang, cari bakat dsb
Dan bisnis ini sangat menggiurkan, lagi pula aman dari jeratan hukum --setidaknya sampai saat ini. Mari kita hitung,satu kali kirim SMS biayanya --anggaplah- - Rp 2000. Uang dua ribu rupiah ini sekitar 60% untuk penyelenggara SMS Center (Satelindo, Telkomsel, dsb). Sisanya yang 40% untuk "bandar" (penyelenggara) SMS. Siapa saja bisa jadi bandar, asal punya modal untuk sewa server yang terhubung ke Internet nonstop 24 jam per hari dan membuat program aplikasinya. Jika dari satu SMS ini "bandar" mendapat 40% (artinya sekitar Rp 800), maka jika yang mengirimkan sebanyak 5% saja dari total penduduk Indonesia (Coba anda hitung, dari 100 orang kawan anda, berapa yang punya handphone? Saya yakin lebih dari 40%), maka bandar ini bisa meraup uang sebanyak Rp 80.000.000.000 (baca: Delapan puluh milyar rupiah). Jika hadiah yang diiming-imingkan adalah rumah senilai 1 milyar, itu artinya bandar hanya perlu menyisihkan 1,25% dari keuntungan yang diraupnya untuk HADIAH sebagai "biaya promosi"! Dan ingat, satu orang biasanya tidak mengirimkan SMS hanya sekali. Masyarakat diminta mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya dengan iming-iming "siapa tahu" mendapat hadiah. Kata "siapa tahu" adalah untung-untungan, yang mempertaruhkan pulsa handphone. Pulsa ini dibeli pakai uang yang artinya : kuis SMS adalah 100% judi.
Kondisi ini sudah sangat menyedihkan. Bahkan sangat gawat. Lebih parah daripada zaman Porkas atau SDSB. Jika dulu, orang untuk bisa berjudi harus mendatangi agen, jika dulu zaman jahiliyah orang berjudi dengan anak panah, sekarang orang bisa berjudi hanya dengan beberapa ketukan jari di pesawat handphone!
Kiranya MUI bisa memperhatikan permasalahan ini.

Tubuhnya sangat lemas, nyaris tak punya nafsu makan, cairan menumpuk diparu-paru, hingga sulit bernapas. Itulah derita yang harus dialami Rahman Sukardi setiap hari. Derita itu harus dialami lantaran ginjalnya sudah tidak berfungsi. Sejak oktober 2005, atlet binaraga yang juga PNS di Pemkot Madiun itu divonis menderita gagal ginjal. Sejak itulah, kelanjutan hidup Rahman harus bergantung kepada alat hemodialisa atau cuci darah yang dilakukan secara rutin seminggu dua kali.
"Saya nggak menyangka akan sakit begini.Walaupun sebenarnya saya sudah sakit sejak lama, saya nggak pernah merasakan sakit. Mungkin karena saya selalu menggunakan suplemen," ungkap bapak empat anak itu saat ditemui koran jawa ini di RSUP dr Soedono, Madiun, Jumat lalu (14/3).
Ketika awal merasa sakit, Rahman pernah dirawat empat bulan lebih dirumah sakit. Berbagai upayah telah dicoba untuk menyembuhkan penyakit itu. Namun, kondisi Rahman justru makin parah. Hingga akhirnya RSUP dr Soedono menyarankan agar melakukan cuci darah secara rutin untuk menyambung hidup.
Berdasarkan pengalaman beberapa teman yang keluarganya juga menderita gagal ginjal, Triana, istri Rahman, disarankan untuk menjalani operasi CAPD atau penanaman ginjal plastik buatan diperut suaminya di Surabaya. Tetapi, disana ditolak. Katanya, cairan yang ada diperut dan paru-paru sudah terlalu banyak. Jadi harus dikecilkan dulu dengan terapi" ungkap Triana.
Operasi itu diperkirakan menelan biaya hingga Rp. 15 juta. Itu pun karena Rahman memperoleh keringanan dari asuransi kesehatan sebagai PNS. Biaya cuci darah rutin Rahman juga sepenuhnya ditanggung Askes.
"Untung, kami terbantu dengan Askes. Jadi, walaupun harus cuci darah seumur hidup, masih bisa gratis. Kalau orang lain yang nggak pakai Askes setiap bulan bisa keluar biaya hingga Rp. 8,5 juta " ungkapnya. Triana mengaku, kini punya banyak sahabat dari keluarga sesama penderita gagal ginjal lantaran selama tiga tahun bergelut dengan penyakit ginjal demi kesembuhan suami tercintanya.
Meski penyakit gagal ginjal bisa disembuhkan dengan transplantasi ginjal, Triana mengaku pesimis, kecil harapan bagi suaminya untuk sembuh total. Sebab, perlu biaya besar untuk mengganti ginjal tersebut. "Mencari orang yang mau mendonor ginjal yang cocok kan susah. Sebab, darahnya harus sama dan ukurannya juga harus sama. Selain itu, biaya operasinya saja bisa lebih dari Rp. 500 juta" katanya.
Rahman tak menyangka tuntutan profesinya sebagai olahragawan yang mengharuskan minum suplemen setiap akan bertanding justru membawanya kepada penyakit yang sulit disembuhkan seumur hidup itu. "saya nggak menyangka kalau akhirnya akan jadi begini," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Pria yang telah menggeluti dunia olah olahraga binaraga sejak 1990 itu mengaku begitu cinta profesinya. Hingga diet ketat dan berbagai cara diupayakan untuk menjadi atlet binaraga terbaik. Bahkan, ketekunannya itu pernah menggoreskan tinta emas untuk Kota Madiun. Pada tahun 2001, Rahman menjadi juara nasional pertandingan binaraga kelas walter mewakili Jawa Timur. "Kadang-kadang saya masih kangen dengan anak-anak bimbingan saya di fitnes. Tapi, mau bagaimana lagi. Keadaan saya sekarang sudah berbeda," keluhnya.
Kini Rahman sudah tidak bisa menjadi atlet. Daya tahan tubuhnya yang sangat lemah membuatnya hanya mampu berjalan 20 meter. "Kalau dulu, saya bisa mengangkat beban hingga 360 kilogram. Sekarang mengakat 10 kilogram saja saya sudah nggak kuat," tuturnya, seraya menatap istri tercinta yang mendampingi ketika selang-selang yang dipasang di tubuhnya memproses pencucian darah melalui alat khusus yang bekerja seperti ginjal buatan. Kini kemanapun akan pergi, Rahman harus mengandalkan Triana untuk mengantar. (end)
*sumber koran jawa pos edisi minggu 16 maret 2008
Sumber : Republika
Dalam rangka menggapai ketakwaan sebagai tujuan berpuasa, ada baiknya sesekali melakukan perenungan yang mendalam terhadap niat dan perilaku kita. Niat bukan hanya sekadar kemauan (wants, interest, desire), tetapi sebuah komitmen, sebuah akad yang mengilhami seluruh relung jiwa yang melahirkan kesungguhan (jihad), tekad dan nyala api yang tak pernah padam. Niat merupakan dorongan yang maha kuat, sebuah motivasi (berasal dari bahasa Latin, movere yang artinya bergerak keluar, senada dengan kata emovere, emosi) untuk mewujudkan seluruh harapan dalam bentuk tindakan.
Kualitas pekerjaan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas niatnya. Begitu juga dengan berpuasa. Kita diminta untuk memasang niat berpuasa, sebuah dorongan dan nyala api untuk melaksanakan puasa dalam arti yang utuh, yaitu ibadah yang bersifat personal dan sekaligus sosial. Bersifat personal, dikarenakan puasa merupakan bentuk pencerahan batin (Tarbiyatul Qolbi). Hati yang telah tercerahkan akan berbinar cahaya (nur) sehingga dia mengetahui secara jelas (karena diterangi cahaya), mana yang hak dan mana yang batil.
Puasa akan melahirkan kejujuran, amanah dan menumbuhkan semangat pelayanan (sense of servitude) yang sangat tinggi. Penghambaan dirinya kepada Allah yang dinyatakan setiap hari minimal 17 kali (iyyaka na'budu) diterjemahkannya dalam bentuk perilaku yang aktual dengan cara menunjukkan sikap pelayanan yang bertanggung jawab (stewardship). Ini semua bermula dari niat yang disertai dengan ilmu dan arah yang benar. Nabi bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa dengan iman dan penuh perhitungan, akan diampuni dosa-dosanya."
Dari hadis ini tampaklah bahwa iman merupakan dasar dipasangnya niat yang disertai ihtishab sebagai proses penelitian bahkan menguji diri sendiri (self examination). Sehingga, kualitas niat berpuasa akan melahirkan dua hal besar yang akan merubah sikap hidupnya. Pertama, niat berpuasa karena rasa cinta dan rindu yang teramat sangat untuk menghadirkan wajah Allah, sehingga mereka hanya memalingkan seluruh harapan dan tindakannya untuk selalu berpihak di jalan Allah (Al Shirath Al Mustaqiim).
Kedua, mereka mewujudkan niatnya tersebut dalam bentuk sikap hidup sederhana bahkan melatih untuk hidup berkekurangan, sebagaimana doa Rasulullah: "... Yaa Allah, jadikanlah hamba kenyang sehari dan lapar sehari. Agar pada saat perut kenyang, hamba mau bersyukur, dan ketika lapar hamba menjadi orang yang sabar."
Para assabiqqunal awwalun (path finder) menjadikan sikap hidup sederhana (wara') sebagai hiasan perilaku hidupnya. Pada suatu saat Umar bin Khattab ditanya, "Kenapa Anda makan gandum yang kasat dan berpakaian sangat sederhana. Dan Anda hanya minum air putih setiap hari, padahal Anda adalah Al Farouk-Pemimpin umat yang besar?" Umar bin Khattab menjawab: "Aku menjadi pemimpin ini dipilih oleh rakyat, di antara mereka masih banyak yang hidup sangat sederhana bahkan dalam keadaan miskin. Tidak pantas seorang yang dipilih rakyat, makan dan minum serta berpakaian melebihi rakyatnya!"
Puasa telah melahirkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia (noble paragon). Puasa telah melahirkan tipikal para pemimpin masa lalu yang hidup sederhana bahkan berkekurangan, karena dia menjaga diri (iffah) agar tidak diperbudak oleh dunia. (agi)
(Toto Tasmara)
Hari gini nggak punya kamera digital? Diakui atau tidak, kepemilikan kamera digital rasanya sudah menjadi hal 'wajib' jika tak ingin dituding gagap teknologi (gaptek) alias tidak menguasai teknologi. Apalagi dalam kurun dua tahun terakhir harga kamera digital kian terjangkau.
Sebelum memilikinya, bingung pilih-pilih jenis kamera digital mana yang paling cocok dengan selera dan kebutuhan, tentu kantong juga perlu dipertimbangkan. Setelah memilikinya, perlu pintar-pintar merawat supaya kamera awet dan bebas dari jamur. Maklum, biaya servis kamera digital juga tidak murah.
Bagi Jie W Kusumo, 24, seorang web master ini misalnya, memiliki kamera digital adalah kebutuhan mutlak untuk pekerjaan sekaligus hobinya. Maklum, aktivitasnya sehari-hari tidak bisa dilepaskan dari urusan potret memotret objek, terutama objek kuliner.
“Saya baru punya kamera digital tahun lalu karena nggak mungkin kalau nggak punya kamera. Tentu saja kamera digital jauh lebih praktis dan menguntungkan buat yang hobi fotografi karena kita bisa langsung melihat hasil foto kita bagus atau tidak,” papar pehobi wisata kuliner ini.
Tak ingin kamera Canon Ixus 75 atau lebih populer dengan SD 750 miliknya cepat aus, Jie, sapaannya, melakukan perawatan sungguh-sungguh. Lensa kamera ia bersihkan terutama setelah memotret makanan yang masih panas, layar atau LCD kamera ia beri pelindung (screen guard) untuk melindunginya dari goresan, dan menyimpan kameranya dalam letter case yang cukup kuat karena ia kerap membawa kameranya bepergian.
“Jangan sampai jatuh kalau bisa, karena tak banyak kamera digital yang tahan banting,” imbuhnya wanti-wanti.
Bukan hanya itu, bagi Jie, kamera digital juga sangat praktis. Terlebih Jie suka bepergian, sehingga ia memutuskan memilih kamera digital poket yang lebih praktis dibawa dan perawatannya lebih mudah dibanding kamera profesional yang segede gajah, selain harganya lebih terjangkau.
Pilihannya jatuh ke Canon Ixus 75 dengan pixel 7,1. Pertimbangannya biar praktis bisa langsung masuk kantong karena tebalnya cuma 1,9 sentimeter saja. Selain itu, perawatannya juga relatif lebih mudah dan fitur-fiturnya lebih mudah dijalankan, tidak perlu pengetahuan fotografi terlalu banyak.
Meski tak memiliki sendiri kamera digital karena punya sepupunya, menjaga dan merawat kamera digital hasil meminjam, buat Viranitha, 23, karyawan, adalah hal yang tak boleh diabaikan. Apalagi jika punya kamera digital yang sensitif alias tidak tahan banting.
Soal perawatan kamera, Vira setuju sama Jie jika kamera diusahakan jangan sampai jatuh, apalagi masuk ke dalam kubangan air, jika ingin aman dan selamat. ”Biasanya kalau jatuhnya agak keras bikin bahaya LCD-nya dan servisnya pun mahal,” ujar Vira yang kerap memakai kamera digital merek Cannon tapi lupa serinya. dta
PULL OUT:
Pilihannya jatuh ke Canon Ixus 75 dengan pixel 7,1. Pertimbangannya biar praktis bisa langsung masuk kantong karena tebalnya cuma 1,9 sentimeter saja.
Menjaga Baterai Awet
Selain mengusahakan agar kamera tak sampai terjatuh, menjaga agar baterai tetap awet (terutama baterai internal dengan sistem charge). Semisal segera mengisi baterai jika indikator baterai tinggal satu garis atau memberi sinyal dengan warna merah. Aimee Baldridge, editor situs khusus teknologi CNET, memberi beberapa panduan agar baterai dalam kamera digital awet karena meminimalkan pula kerusakan pada bagian kamera lainnya.
Berikut panduannya:
* Gunakan seri baterai charge lithium AA asli atau jika memakai baterai noncharge, pakailah baterai berkualitas tinggi. Pilihan baterai lithium lebih baik dan tahan lama dibanding baterai alkaline terutama untuk bepergian.
* Jangan pernah membiarkan baterai lithium benar-benar habis dan segera charge begitu indikator baterai menunjukkan baterai lemah atau tinggal satu garis (biasanya indikator baterai penuh hingga empat garis atau lima garis).
* Saat membeli, pastikan Anda memiliki garansi. Jika setelah baterai lithium terisi penuh tapi daya tahannya pendek, segera kembalikan kamera tersebut karena pasti ada yang salah dengan kameranya. Baterai charge lithium punya daya tahan panjang lebih dari satu hari. dta
Merawat Kamera ala Darwis Triadi
* Keluarkan baterei bila kamera digital tidak akan digunakan dan jauhkan baterei dari api.
* Pastikan kamera dalam kondisi off ketika mengeluarkan baterai dan kartu memori untuk menghindari kerusakan pada gambar dan kartu memori.
* Masukkan kartu memori dengan benar untuk menghindari kamera hang.
* Instal kamera digital pada komputer dan format kartu memori internal dan eksternal saat memakainya pertama kali.
* Masukkan kamera dalam tas khusus dengan tali penggantung untuk mencegah benturan langsung pada badan kamera jika terjatuh dan meminimalkan risiko jatuh jika digantungkan dengan tali pada leher. Biasanya tas khusus untuk kamera digital punya pelindung busa di dalamnya sehingga melindungi kamera dari guncangan.
* Tambahkan gel silika di dalam tas untuk mencegah kamera lembab.
* Bersihkan lensa kamera dan kamera secara berkala dengan lap khusus dan cairan kimia khusus lensa, serta belilah blower untuk mengeringkan bagian dalam kamera untuk melindungi munculnya jamur. Jika sudah telanjur berjamur, bawa kamera ke pusat servis segera.
* Lindungi lensa kamera DSLR (kamera profesional) dengan filter ulir dan memasang bodycup untuk bagian belakang lensa saat lensa dilepas dari badan kamera. Berbeda dengan kamera poket yang biasanya lensa kamera sudah terlindung otomatis.
* Hindari kamera dari kapur barus karena berbahaya untuk bagian kamera yang terbuat dari bahan karet dan lindungi dari paparan langsung sinar matahari untuk melindungi bagian kamera yang berbahan plastik.
* Hindari kamera dari cipratan air laut karena menyebabkan karat potensial.
* Tak ada salahnya membawa kamera ke servis resmi terutama untuk membersihkan bagian dalam kamera dari kemungkinan timbulnya jamur.
* Hindari menyimpan kamera di dalam lemari pakaian karena berpotensi mengundang jamur. adarwistriadi/dta
|